Pages

Tuesday, December 18, 2018

Hikmah Bersyukur Kepada Allah SWT

1. Allah SWT Akan Menambah Nikmat-Nya
Janji Allah Swt bahwa Dia akan menambahkan nikmat yang telah diberikan jika kita mensyukurinya. “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]:7)
2. Allah Tidak Menyiksa Hamba Yang Bersyukur Dan Beriman Serta Bersabar
Apabila seorang hamba ialah orang beriman dan selalu berterima kasih karenanya Allah Ta'ala tak akan menyiksa hamba itu. Bahkan, Allah SWT memberi pahala atas amal-amalnya, menambahkan enak-Nya, dan memaafkan kesalahannya.
“Mengapa Allah Swt akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah Swt adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa [4]:147)
3. Bersyukur Dapat Melestarikan Nikmat Dan Menambah Nikmat
Dengan bersyukur, Allah akan melestarikan nikmat tersebut kepada hamba-Nya dan tidak mencabut nikmat tersebut darinya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya : “Bersyukur atas nikmat Allah Swt akan melestarikan nikmat tersebut.” (HR. ad-Dailami)
“(siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah SWT sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Swt Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfaal [8]: 53)
4. Balasan Pahala Bersyukur Yaitu Memperoleh Nikmat
“Sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Al-Qamar [54]: 35)
5. Allah Pasti Memberi Balasan Orang Yang Bersyukur
Orang yang bersyukur pasti akan menerima balasan dari Allah Ta’ala, bagus di dunia ataupun di akhirat.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Qs. Ali Imran [3]: 145)
Orang-orang yang berterima kasih memiliki kesadaran dan kecakapan untuk mengamati keindahan dan kenikmatan yang dikaruniakan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada mereka semuanya dan juga kepada seluruh alam semesta ini.
Kita perlu belajar kepada orang-orang mukmin sejati yang senantiasa paham dan memahami akan keutamaan berterima kasih terhadap Allah sekalipun berada dalam keadaan yang amat sulit sekalipun. Bagus itu dalam menghadapi kesusahan hidup dan sejenisnya.
Seseorang yang memperhatikan dari luar mungkin menyangka berkurangnya enak pada diri orang-orang yang beriman. Padahal, dalam diri orang beriman yang cakap melihat sisi-sisi kebaikan dalam tiap-tiap peristiwa dan kondisi juga kapabel mengamati kebaikan dalam penderitaan tersebut.
Anggapan kebanyakan orang, berterima kasih kepada Allah cuma perlu dikerjakan pada dikala menerima anugerah kenikmatan yang besar atau terbebas dari keadaan sulit besar yang sedang dihadapinya karenanya hal tersebut yaitu kesalahan kekeliruan yang besar.
Walaupun seandainya kita merenung sejenak, maka kita akan bisa menyadari bahwa kita semua ini dikelilingi oleh nikmat yang tidak terbatas banyaknya.
Dalam hitungan waktu ,setiap detik, tiap-tiap menit, dan seterusnya tercurah kenikmatan dari Allah tak terhenti yang berupa hidup, kesehatan, kecerdasan, panca indera, udara yang dihirup.. Semoga kita termasuk dalam Hamba Allah yang bersyukur.. Amin..

Saturday, December 15, 2018

Menilai Diri

“Hendaklah kamu bersikap murah hati dan jauhilah kekerasan dan kekejian” (HR. al Bukhari).


Umumnya kita begitu mudah menilai baik buruk seseorang, tetapi sangat sulit menilai diri sendiri. Padahal apa yang dilakukan setiap hari bisa difahami sejumlah indikator yang menunjukkan siapa diri kita. Misalnya, seseorang yang ibadah dan tinggi ilmunya karena Allah, akan terpancar kebaikannya dalam perilakunya sehari-hari. Menurut Imam Al Ghazali, tanpa melalui pertimbangan pun, akhlak seseorang akan mudah terwujud dalam perbuatannya.

Disebut tanpa pertimbangan karena sudah terbiasa melakukan yang baik dan benar, dan tak biasa melakukan yang buruk. Kebiasaan berbuat baik kepada setiap orang membentuk pribadi seseorang yang baik sepanjang hidupnya. Sebaliknya, seseorang yang jahat pun akan mudah melakukan kejahatannya tanpa pertimbangan lagi, terutama pertimbangan tentang dosa-dosa akibat terjadi penganiayaan terhadap orang lain atau orang banyak.

Karena itu, penting berusaha untuk mempertahankan diri agar menetapi kebaikan. Soalnya, bila mencoba suatu keburukan, akan berpeluang mengulanginya bila terasa enak atau menguntungkan secara materi. Hal itu bisa menggiring lebih dalam ke lembah kejahatan, sehingga sangat disayangkan segala amal kebaikan yang pernah dilakukan sebelumnya. Memang telah disebutkan dalam hadits tentang adanya manusia demikian, yang pada awalnya giat melakukan amalan-amalan calon penduduk surga, tetapi menjelang kematiannya berbalik melakukan amalan-amalan calon penduduk neraka. Na’uzubillah.

Friday, November 20, 2015

Antara Jihad dan Terorisme

Oleh Zahlul Azmi

Teroris menjadi satu istilah yang sangat populer dalam dua dekade terakhir ini, karena disebarluaskan oleh media Barat tanpa berusaha mencari makna yang sebenarnya dari istilah tersebut. Istilah ini sering dikaitkan oleh media Barat dengan tingkah laku politik komunitas Muslim Timur Tengah. Terorisme seakan-akan identik dengan Islam, jika disebutkan kata “teroris” yang ada di benak mereka adalah sosok seorang Muslim, sedangkan tindakan Israel yang menyerang warga Palestina tanpa prikemanusiaan tidak mereka sebut terorisme, melainkan disebut sebagai “aksi pembalasan”, “response”, atau “pencegahan”.
Sebenarnya kalau media Barat bersikap fair, keyataannya banyak teroris yang bukan dari Islam seperti gerakan Amum Shinrikyo di Jepang, Macan Tamil di Sri Lanka, Kahane Chai di Israel, Kelompok Nopember 17 di Yunani, Tupak Amaru di Peru, Farc di Kamboja, dan kelompok America Militant Extremists di Amerika Serikat. Berdasarkan fakta tersebut, muslim yang mereka identikkan dengan terorisme hanyalah fitnah, propaganda orang-orang Barat untuk mempengaruhi dan membuat opini negatif terhadap Islam
Aksi teror dan jihad memiliki perbedaan yang sungguh tajam. Karena teroris adalah orang yang melakukan teror, tindak kesewenang-wenangan untuk menimbulkan kekacauan dalam masyarakat, tindakan kejam dan mengancam. Mengenai terorisme ini terdapat dua kategori: Pertama, horrific terrorism, yakni terorisme yang benar-benar jahat karena menghancurkan kekayaan pribadi dan negara serta membunuh jiwa tanpa alasan yang rasional dan dengan cara yang tidak konvensional. Dan, kedua, heroic terrorism, yakni tindakan terorisme untuk memperjuangkan hidup, seperti bom bunuh diri. Kategori pertama sangat dikecam oleh Islam karena telah membunuh rakyat yang tidak berdosa, sebagaimana firman Allah Swt: “Janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar.” (QS. al-An’am: l51)
Dalam ayat lain, Allah Swt berfirman: “Oleh karena itu, kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil bahwa barang siapa yang membunuh seseorang, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain) atau bukan karena membuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya, dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara semua kehidupan manusia. Sesungguhnya Rasul-rasul kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka sesudah itu, melampaui batas dan berbuat kerusakan di bumi ini.” (QS. al-Maidah: 32)
Kedua ayat di atas mengecam dan memberi hukuman yang sangat keras terhadap pelaku tindakan kriminal dan membunuh manusia-manusia yang tidak berdosa. Sedangkan kategori yang kedua adalah merupakan bentuk perjuangan suci yang bila mati disebut dengan syuhada karena membela kebenaran dan ingin memperoleh hak-haknya yang dirampas oleh negara Zionis tersebut.
Dalam Islam tidak pernah terjadi peperangan dengan maksud hendak menumpas pihak musuh, kesabaran dan perdamaian selalu menjadi pegangan, sedangkan kekuasaan dan kekuatan hanya untuk melindungi agama. Pesan-pesan agama yang dibawa Nabi Muhammad Saw sangat humanis, egaliter dan toleran. Ini bisa dilihat dalam sejarah Islam seperti penyebarannya ke Afrika, Andalusia dan lain-lain. Di mana umat Islam tidak menggunakan kekerasan dan aksi teror untuk memaksakan kehendak. Islam menganjurkan umatnya untuk mewujudkan perdamaian, keadilan dan kehormatan dan semua itu haruslah tidak dilakukan dengan cara kekerasan dan bentuk teror.
Peperangan yang diperintahkan oleh Islam hanyalah untuk membendung serangan musuh guna melindungi agama, mencegah keterlaluan orang-orang yang melanggar batas, dan memperkosa hak orang-orang Islam hingga kejahatannya dapat dihindarkan dan menyelamatkan diri dari kezaliman mereka. Namun sebagian kelompok radikal memandang bahwa orang-orang non muslim itu boleh dibunuh dengan alasan akidah mereka melenceng, mereka dianggap kafir dan musyrik kepada Allah Swt dengan merujuk pada firman-Nya: “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekkah)...” (QS. Al-Baqarah: 191). Nabi saw juga pernah bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka berkata lailaha illa Allah (tidak ada Tuhan selain Allah).
Kelompok ini memahami teks di atas apa adanya tanpa mencari alasan logis atau penyebab turunnya ayat dan hadis tersebut. Padahal bila kita cermati konteks dua nash tersebut bahwa kebolehan itu berlaku hanya dalam peperangan. Jadi mereka (orang-orang kafir) yang memerangi umat Islam, harus diperangi, dan apabila mereka berhenti (tidak memerangi umat Islam) maka umat Islam pun tidak boleh memerangi mereka.
Sebagian kelompok tertentu memahami bahwa untuk merespons orang kafir harus dengan melakukan perang frontal dan mengedepankan jiwa, karena banyak sekali ayat tentang jihad dalam Alquran yang menyebut kata anfus (jiwa). Ayat tentang kewajiban berjihad turun setelah orang Muslim merasa terdesak dengan hegemoni orang kafir yang mana mereka selalu menyakiti, menyiksa dan melakukan aksi kekerasan terhadap orang Islam.
Namun ada juga yang berpendapat sebaliknya, seperti Hamka dan Wahbah al-Zuhaily bahwa jihad tidak mesti mengangkat senjata. Akan tetapi bisa juga menahan perasaan, menuntut ilmu dengan tekun dan sungguh-sungguh serta menyebarkan dakwah Islamiyah. Karena makna jihad itu sendiri adalah berjuang bersungguh-sungguh atau bekerja keras, dan tidak peduli payah.
           Menurut Quraish Shihab ada kesalahpahaman tentang pengertian jihad. Hal ini mungkin disebabkan karena sering kali kata itu baru terucapkan pada saat perjuangan fisik, sehingga diidentikkan dengan perlawanan bersenjata. Kesalahpahaman itu disuburkan juga oleh terjemahan yang keliru terhadap ayat-ayat Alquran yang berbicara tentang jihad dengan anfus. Kata anfus sering kali diterjemahkan dengan jiwa (M Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah Vol. XI).
Lebih lanjut ia mengemukakan bahwa Alquran mempersonifikasikan wujud seseorang di hadapan Allah dan masyarakat dengan menggunakan kata nafs. Ini berarti tidak meleset jika kata itu dalam konteks jihad dipahami dalam arti totalitas manusia, sehingga kata nafs mencakup nyawa, emosi, pengetahuan, tenaga, pikiran, walhasil totalitas manusia, bahkan juga waktu dan tempat.
Jihad mengandung pengertian yang sangat luas, yang terbagi atas jihad al-akbar dan jihad al-asghar. Jihad al-akbar yakni jihad melawan hawa nafsu yang bisa tidak terkendali di dalam diri setiap Muslim. Sedangkan jihad al-asghar yakni perang melawan musuh-musuh Islam dan Muslimin. Jihad juga mengandung pengertian bahwa setiap usaha sungguh-sungguh yang dilakukan dalam amal perbuatan baik apa saja (fi sabilillah), yang diniatkan sebagai ibadah kepada Allah Swt dan orang yang meninggal dunia dalam setiap usaha baik (ibadah) ini dapat disebut pula sebagai syahid (martyr).
Dengan demikian jihad tidak mesti dipahami dengan angkat senjata tetapi bisa dipahami dengan makna lain yang lebih fleksibel seperti mencurahkan seluruh kemampuan atau menanggung pengorbanan, seperti dengan cara banyak belajar, menguasai teknologi, ekonomi, politik dan lain-lain. Maka seorang pemimpin yang berusaha dengan sungguh-sungguh dalam memberantas kemiskinan dan menyejahterakan rakyatnya, bersikap adil, memberantas maksiat demi mencapai ridha Allah, maka dapat disebut sebagai jihad dalam arti sesungguhnya. Seorang ibu yang mengandung dan melahirkan anaknya dengan penuh pengorbanan, seorang suami yang berusaha dengan susah payah mencari nafkah untuk isteri dan anak-anaknya disebut juga bagian dari jihad.
Jihad ilmuwan dengan pemanfaatan ilmunya, karyawan dengan karyanya yang baik, guru dengan pendidikan yang sempurna, pengusaha dengan kejujurannya. Maka tidak salah kalau pengorbanan fisik merupakan alternatif terakhir, karena jiwa punya hak untuk hidup yang harus dilindungi. Menahan perasaan amarah, menahan nafsu dan lain-lain itu adalah jihad yang sesungguhnya bahkan melebihi peperangan seperti yang pernah diucapkan Rasulullah saw usai Perang Badar. Dan yang perlu digarisbawahi adalah bahwa semua jihad, apa pun bentuknya dan siapa pun lawannya, harus karena Allah Swt dan tidak boleh berhenti sebelum berhasil. Wallahu a‘lam bi al-shawab.